• UNPAR+

Bisnis Di Masa Covid-19: Ob-la-di, Ob-la-da, Life Goes On!

Diperbarui: 20 Jul 2021

Saat Anda mulai berbisnis pasti akan menghitung setiap resiko yang akan dihadapi. Ada resiko yang bisa dihindari dan diminimalisasi. Namun ada juga resiko yang tidak dapat diperkirakan, di luar kendali manusia

"Ob la di, ob-la-da, life goes on, bra La-la, how the life goes on"


Bagi Anda penggemar The Beatles pasti tidak asing dengan potongan kalimat diatas, sebuah bagian refren dari single "Ob-La-Di, Ob-La-Da" yang di-release pada tahun 1968 lalu. Diciptakan oleh Paul McCartney. Lagu tersebut menggunakan beat yang cepat dan ceria, sehingga bila Anda mendengarnya, you will just fall in love with it! Singkat cerita lagu tersebut laku keras di pasaran dunia.


Sejenak setelah mendengarkan lagu tersebut saya merasa ringan sejenak keluar dari cerita, berita, kisah mengenai efek dari pandemi Covid-19 ini diseluruh dunia. Pemutusan hubungan kerja yang masif, hingga bisnis-bisnis yang pada bertumbangan. Tidak terkecuali di Indonesia. Yap, hal tersebut memang nyata terjadi di depan mata kita, bahkan saya baru saja membaca berita mengatakan dalam tiga bulan ke depan akan terdapat 25 juta pengangguran di Indonesia. Wow, I hope it's not gonna happen.


Sering sekali saya mendengar keluh kesah pelaku bisnis belakangan ini, baik dari mikro hingga besar mengeluhkan betapa besar tekanan yang mereka hadapi saat ini. Ada yang menyerah, namun ada juga bisnis yang berjibaku mencari penjualan dengan mengubah produk atau bahkan model bisnisnya. Dulu mereka produksi baju, sekarang membuat masker. Event Organizer yang biasanya sudah membuat brand activation, event di berbagai kota, sekarang cukup membuat webinar di laptop mereka. Dulu ada Starbucks selalu penuh, sekarang kalah dengan warung nasi padang. Well, anything abnormal is become normal nowadays!


Bagi Anda yang menjalankan bisnis, baik jasa ataupun produk seharusnya di kuartal kedua dan ketiga ini adalah sebuah momentum "panen besar" bagi Anda. Biasanya dimulai dari masa bulan puasa, masuk ke masa penerimaan THR hingga akhir lebaran, peningkatan permintaan produk/ jasa Anda mengalami peningkatan luar biasa. Saya yakin, pasti banyak bisnis sejak akhir tahun kemarin sudah stocking produknya habis-habisan untuk dijual di bulan Ramadhan ini. Tapi siapa sangka?

Force Majeure Point of View


Saat Anda mulai berbisnis pasti akan menghitung setiap resiko yang akan dihadapi. Ada resiko yang bisa dihindari dan diminimalisasi. Namun ada juga resiko yang tidak dapat diperkirakan, di luar kendali manusia. Saya rasa saat ini bisnis sedang mengaktifkan sudut pandang "force majeure" tersebut. Mau bagaimana lagi, tidak ada satupun perusahaan di muka bumi ini yang memperkirakan pandemi ini.

But I want to tell you this: Seseorang memang tidak akan pernah siap menghadapi force majeure, namun dia bisa bersiap untuk masa depan. Apa yang dihadapi oleh bisnis saat ini adalah gerbang atas siklus bisnis-konsumen yang baru. Dalam setiap siklus baru akan ada tantangan baru, namun akan ada juga "Peluang" baru.

Manusia, organisasi dan bisnis selama ribuan tahun telah mengalami evolusi, revolusi dan force majeure dalam banyak kejadian. Spanish Flu Pandemic di tahun 1918, The Great Depression tahun 1920, World War I-II , hingga The Great Recession di tahun 2000-an. You know what? manusia kembali bangkit dan menjadi lebih hebat lagi.


Saya tidak mengajak kita menutup mata atas hantaman yang terjadi dalam dunia bisnis saat ini, namun saya mengajak kita untuk membawa sudut pandang mata kita ke arah depan. Sejauh visi dan mimpi Anda dulu berada. This too shall pass, and we will win the war!

Seperti kata The Beatles: "Ob la di, ob-la-da, life goes on..."


Artikel dibuat oleh Dianta Hasri dan telah diterbitkan serupa di Kumparan